Kadangkala aku bertanya di mana cinta berada
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu
Pagut sepi ku di sini letih hatiBegitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauanKadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnyaBegitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayanganBegitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan(Katon Bagaskara, Pasangan Jiwa)Mendengar curhatan kawan saya akhir-akhir ini, meresapi tema-tema
diskusi yang menghiasi obrolan santai akhwat-akhwat seangkatan…
nampaknya lagu ini lumayan mewakili.. Sebuah keresahan yang mendalam, sebuah penantian yang seolah tanpa
ujung,.. dan yang terpenting.. sebuah pertanyaan yang benar-benar
membuat penasaran setengah mati : Kapan, dimana, dan DENGAN SIAPA???Barangkali itu pula yang juga saya rasakan 4 bulan yang lalu, ketika
sebuah nama yang sekarang menghiasi cincin di jari saya belum hadir
dalam kehidupan saya. Ketika doa-doa sebagai ikhtiar utama telah teramat
sering terpanjatkan, namun tak juga muncul sebuah NAMA.. (nama saja
belum, apalagi kapan dan dimana..???
) hmm,… kalau mengingat-ingat masa itu, rasanya gemes, dan berfikir,
“Ya Rabb,…sungguh.. jodoh itu adalah rahasiaMu yang paling luar
biasa..”Bagaimana tidak? sebagai seorang yang aktif untuk mengikuti pengajian
rutin, dan paham batasan interaksi laki-laki dan perempuan, gambaran
pasangan hidup benar-benar tidak terpikirkan sama sekali. Gambaran bahwa
nantinya akan ada lawan jenis yang halal bagi kita, setiap saat bersama
kita, yang boleh kita cintai, boleh kita sentuh, boleh berkhalwat..
hiiiiiiy…..Dan sekali lagi manusia tidak dapat mengintip takdir itu. Sedikitpun.Ibarat jawaban dalam ujian, hanya mengintip ‘inisial huruf awal’ saja
tidak bisa, benar-benar tidak bisa.. bahkan jawaban itu hanya akan
diketahui sesaat setelah penghulu mengucapkan kata : “Sah..?Sah…?
SAH…..!!!! “saat itulah batasan yang sebelumnya haram menjadi halal, yang sebelumnya meresahkan menjadi sangat indah… luar biasa….Saya memahami perasaan kawan-kawan saya yang sampai sekarang masih menanti. Apalagi yang benar-benar menjaga prinsip bahwa “makanan yang paling nikmat adalah makanan saat berbuka puasa”
(kata makanan di sini tentu saja diartikan sebagai penyaluran fithrah
seseorang sebagai manusia biasa). Mereka melaluinya dengan sikap yang
berbeda-beda. Ada yang memang terang-terangan memperlihatkan
keresahannya, lewat update status di facebook, lewat notes, lewat
sindiran-sindiran, dan sebagainya.. Ada juga yang tampak santai dan
bersahaja, namun dalam hati juga mulai gelisah dan berharap, ada yang
telah melalui ikhtiar untuk ‘meminta’ pada Murobbi, ada yang telah
merasa siap tapi tidak tahu bagaimana cara untuk melangkah….Bagi saya kuncinya adalah firasat baik pada Allah. Sebab kunci utama
penggenggam keputusan hanya Allah saja. Dan juga tidak kalah penting
adalah berusaha untuk selalu menjadi lebih baik, hingga akhirnya merasa
berhak untuk mendapat yang terbaik. Sebab janji Allah pasti,“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan
laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan
wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik….”
(QS.24:26)Jadi kenapa harus resah, ukhti? Anggap saja jawaban itu masih
menggantung di langit, dan masih menunggu saat yang tepat untuk
diturunkan.. Temani saat menunggumu dengan doa, dengan sabar, dengan keistiqomahan, ikhlas, dan prasangka baik padaNya…
Thanks To :Dan semua yang tak bisa aku sebutkan satu per satu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar